Sabtu, 07 Juli 2012

FENOMENA NGABEN MASAL DI DESA ADAT LEGIAN

FENOMENA NGABEN MASSAL
DI DESA ADAT LEGIAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Budaya

BAB I
PENDAHULUAN

Negara kita merupakan sebuah Negara yang bersifat multicultural. Negara kita kaya akan berbagai jenis kebudayaan.masing-masing daerah memiliki corak kebudayaan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh kebudayaan yang ada di negeri kita adalah upacara ngaben.

Upacara ngaben ini merupakan salah satu kebudayaan atau tradisi yang cukup langka di Negara kita. Upacara in juga merupakan tradisi khas bagi masyarakat pemeluk agama Hindhu di Bali.

Masyarakat tersebut menganggap bahwa upacara ngaben atau upacara pembakaran mayat orang yang sudah meninggal dunia tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting, karena dengan pengabenan tersebut keluarga dapat membebaskan arwah orrang yang meninggal dari ikatan duniawinya., sehingga dapat menuju sorga atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi.

Banyak di antara kita yang belum mengetahui secara mendalam tentang tradisi ini. Makalah ini akan menyajikan suatu pembahasan mengenai hal tersebut. Makalah ini akan mengkaji fenomena “Ngaben Masal di Desa Legian” yang merupakan salah satu wilayah di Pulau Bali, dengan harapan dapat menambah wawasan/ pengetahuan para pembacanya.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Latar Belakang Ngaben Massal di Desa Adat Legian
Sebagai umat beragama Hindu yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya, sudah merupakan kewajiban bagi sebuah kelompok masyarakat atau individu untuk melaksanakan apa yang telah ditentukan atau digariskan oleh norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu adalah melakukan Yadnya. Salah satu dari Yadnya/ kewajiban tersebut adalah melaksanakan upacara ngaben. Upacara ngaben dilaksanakan terhadap keluarga yang telah meninggal oleh keluarga yang ditinggalkan sebagai kewajiban membayar hutang kepada leluhur. Di dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban selaku umat beragama, sangat terkait dengan adat dan tradisi suatu desa pakraman, dimana di dalam hal ini adalah adat dan tradisi warga masyarakat di Desa Legian. Untuk mengetahui bagaimana dan apa saja teradisi tersebut, alangkah baiknya diuraikan terlebih dahulu tentang kondisi dan situasi desa legian.
Legian adalah merupakan sebuah Desa Adat yaitu yang disebut Desa Adat Legian yang merupakan satu kesatuan wilayah/palemahan (wewidangan) yang terdiri dari tiga Banjar Suka-Duka dan Banjar Dinas yaitu Br. Legian Kaja, Br. Pekandelan Legian (Legian Tengah), dan Br. Legian Kelod. Desa Adat Legian, sesuai dengan keputusan Pemkab Badung mengadakan pemekaran wilayah, menjadi satu wilayah kelurahan yaitu Kelurahan Legian. Ditinjau dari segi topografi, desa legian adalah termasuk wilayah dataran rendah yang terletak di pesisir pantai. Penduduknya bersifat heterogen, yang terdiri dari banyak penduduk pendatang baik dari luar Bali maupun dari Bali, tetapi luar kabupaten. Jumlah penduduk asli hanya berkisar sekitar 600 orang.
Sebagai masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama Hindu, masyarakat desa adat legian selalu taat dalam melaksanakan ajaran Agama, serta sangat menghormati para leluhurnya, yaitu dengan jalan membayar hutang dalam bentuk persembahan yadnya seperti yang telah dikemukakan pada awal tulisan ini. Kembali disebutkan bahwa salah satu dari pelaksanaan yadnya tersebut adalah melaksanakan upacara ngaben bagi orang atau keluarga yang sudah meninggal. Upacara ngaben ini dilaksanakan dengan maksud untuk mempercepat proses kembalinya panca mahabhuta yang membentuk badan manusia, agar kembali ke asalnya. Dan bertujuan untuk melancarkan jalan bagi atman untuk dapat mencapai alam sorga.
Dalam melaksanakan upacara ngaben, tentu dana yang diperlukan cukup besar, bagi ukuran umat atau masyarakat yang ada di Desa Legian. Jika keluarga yang cukup mampu, akan melaksanakan ngaben segera setelah ada anggota keluarga yang meninggal, dan sebaliknya jika yang meninggal itu adalah dari keluarga yang tidak mampu/miskin, maka jenasahnya cukup dikubur dengan upacara secukupnya, dan akan melaksanakan ngaben setelah ia mampu. Biasanya untuk dapat melaksanakannya akan menunggu cukup lama, mungkin 10 – 25 tahun atau lebih.
Untuk mengantisipasi hal tersebut,maka desa adat melakukan upaya-upaya untuk memberikan bantuan dalam bentuk merangkul kewajiban masyarakat dalam melaksanakan upacara ngaben, sehingga bagi masyarakat yang kurang mampu dapat memberikan kewajiban membayar hutang kepada leluhurnya. Karena seperti diketahui, untuk melaksanakan upacara ngaben (di Legian) memerlukan biaya yang cukup besar. Dalam hal trsebut masyarakat adat, melalui keputusan parum samuan tiga, menghasilkan suatu keputusan untuk melaksanakan upacara ngaben secara masal.

2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari dilaksanakannya upacara ngaben adalah:
Secara garis besar, bahwa ngaben itu dimaksudkan untuk memproses unsur Panca Mahabhuta yang membentuk tubuh manusia untuk dikembalikan ke asalnya. Atau dengan kata lain, stula sarira dari tubuhmanusia yang telah meninggal dikembalikan lagi ke Panca Maha Buta atau alam semesta melalui proses Pralina atau pembakaran. Oleh karenanya sesungguhnya ngaben tidak bisa ditunda-tunda. Mestinya begitu meninggal harus segera diaben.
Tujuan dari dilaksanakannya upacara ngaben :
Menyucikan arwah leluhur atau orang tua, sehingga arwahnya bisa mencapai Bhuah Loka yaitu alam Pitara. Di dalam Ngaben terdiri dari pemisahan Purusa dan Prakerti Jiwatman dengan stula sarira atau badan wadag. Jiwatman yang berasal dari Hyang Widhi dikembalikan Kembali ke Hyang Widi. Disamping itu untuk membayar hutang kepada orangtua/leluhur, yaitu dalam Pitra Rnam adalah orang tua yang “melahirkan” kita sehingga kita menjelma ke dunia, maka itulah orangtua disebutkan dengan nama Guru Rupaka. Orang tua adalah merupakan Dewa skala, yang mengadakan si anak, karena dengan adanya pertemuan Sukla - swanita itulah atma akan menjiwai manusia. Inilah landasan kita berbakti setulus tulusnya terhadap orang tua/leluhur. Orang tua mempunyai hubungan timbal balik, yang diwujudkan dalam upacara Ngaben. Dalam Upacara Ngaben terkandung dualisme, yaitu orang tua yang mengadakan anaknya melalui proses ciptaan dan setelah orang tua meningal, anaknya yang mengembalikan orang tuanya ke asal yang disebut dengan "Mulihing Sangkan Paran".
3. Landasan Upacara
Di dalam kitab Menawa Dharmasastra VI. 35, ada disebutkan bahwa aktivitas atau kegiatan beragama baru dapat dilakukan dalam rangka melepaskan diri dari ikatan duniawi dengan jalan mencapai kelepasan setelah kita dapat menebus tiga hutang moral. Hutang moral dalam agama Hindu disebut dengan TRI RNA yang terdiri dari:
·         Dewa Rna yang berarti berhutang moral kepada Tuhan,
·         Pitra Rna yang berarti hutang moral kepada kepada leluhur, dan
·         Resi Rna berhutang moral kepada Resi atau orang-orang suci atau guru.
·     Hutang moral adalah suatu kesadaran rohani yang menyadari bahwa adanya kehidupan ini karena Yadnya dari Tuhan, leluhur dan orang suci ( Dewa, Pitra dan Rsi). Karena yadnya itulah orang yang memiliki kesadaran moral akan merasa berhutang kepada Dewa, Pitra, dan Resi. Dengan adanya kesadaran moral Tri Rna itu, maka dilakukan Panca Yadnya sebagai wujud rasa bakti kepada Dewa, Pitra dan Rsi.
4. Rangkaian Upacara Ngaben

·         Pedewasan Karya
Sebelum memulai suatu prosesi upacara yang mana dalam hal ini upacara ngaben, maka perlu ditetapkan terlebih dahulu hari baik atau sube dewase untuk memulainya.Dalam hari suba dewasa yang telah ditetapkan tersebut diawali dengan prosesi ritual yang disebut dengan Ngeruak, Nyapuh, dan Nanceb Pampang.
·         Ngeruak dan Nyapuh
Ngeruak berasal dari kata “uak” yang artinya buka, sedangkan nyapuh berarti membersihkan. Jadi ngeruak bermakna membuka jalan atau memberi jalan keluar kemudian setelah dibuka jalan dibersihkan dari segala kekotoran atau keletehan. Secara ritual upacara ngeruak dan nyapuh ini berarti suatu prosesi upacara untuk membuka jalan dan mengeluarkan/membersihkan secara niskala pengaruh kekuatan-kekuatan negatif dari Sang Hyang Panca Maha Bhuta yang dulunya mempunyai fungsi-fungsi tertentu pada suatu tempat, untuk dikembalikan ke arah sentrum atau dengan kata lain dinetralisir. Jadi upacara ngeruak dan nyapuh disini juga dapat dimaknai untuk menyucikan atau menetralisir suatu areal/tempat atau pekarangan dari segala keletehan dan kekotoran, sehingga dapat difungsikan sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan penggunaan, yang mana dalam hal ini adalah untuk tempat melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanakan ngaben, atau disebut dengan “bale pengorong”.
·         Nanceb Pampang
Nanceb Pampang secara kronolog artinya memancangkan tiang.Yaitu suatu prosesi upacara yang ditandai dengan nuasen memancangkan/nanceb tiang-tiang bangunan sebagai prasarana dalam kegiatan upacara Ngaben.
·         Ngulapin
Ini maksudnya adalah untuk memanggil atau memberi informasi secara niskala kepada roh atau atma untuk diajak pulang karena akan diaben.
·         Ngajum
Ngajum adalah menusukan jarum yang telah disediakan pada kajang yang merupakan simbul dari orang yang diaben yang dibuat dari uang kepeng (pis bolong) yang menyerupai bentuk manusia lengkap dengan pakaiannya. Hal ini menandakan memberi hormat kepada roh leluhur yang diaben agar mendapatkan sorga.
·         Ngendag
Acara ngendag dilakukan sehari menjelang puncak upacara ngaben. Ngendag yaitu, membongkar dan menggali sebagian kuburan jenasah yang akan diaben sampai kelihatan peti atau pembungkusnya.

·          Pengutangan
Pengutangan merupakan puncak upacara. Pada hari ini roh leluhur yang akan diaben yang disimbulkan dengan adegan yang disebut dengan sawa, dibawa ke setra dan ditempatkan pada tempat pembakaran yang disebut dengan pemalungan. Sebelum dibakar, dilaksanakan upacara dengan memerciki tirta.
·           Nganyut ke Segara
Nganyut ke Segara adalah rangkaian terakhir upacara ngaben. Jika semua sawa atau tulang-tulang yang ada dipemalungan sudah habis terbakar, kemudian tulang bekas-bekas pembakaran itu dipungut kembali dan siram dengan air bersih. Selanjutnya dilaksanakan upacara ngereka yaitu membentuk kembali abu-abu dari tulang yang dibakar kedalam bentuk perwujudan simbolis manusia.

5. Kaitan Ngaben Dengan Teori Difusi
 Ngaben mempunyai kaitan erat dengan teori difusi. Ngaben merupakan tradisi keagamaan umat Hindu. Masuknya budaya Ngaben ini ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Hindu tersebut. Agama Hindu bukanlah agama yang sejak awal sudah ada di Indonesia. Agama Hindu masuk ke Indonesia karena proses difusi atau penyebaran. Ada orang mancanegara yang memang telah memeluk agama Hindu tersebut sebelumnya. Merekapun mewariskannya pada generasi berikutnya secara turun-temurun, hingga akhirnya saat inipun agama Hindu beserta segenap tradisi-tradisi hinduistik yang mengikutinya,termasuk budaya Ngaben sebagai salah satunya masih bertahan, mengakar dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat yang menyakininya.

BAB III
PENUTUP

Demikianlah makalah mengenai “ Fenomena Ngaben Masal di Desa Adat Legian”. Dari pembahasan tadi dapat disimpulkan bahwa upacara Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang di laksanakan umat Hindu di Bali. Upacara Ngaben sangat berkaitan dengan adat dan tradisi warga masyarakat di Desa Legian. Maksud dari Upacara Ngaben untuk mempercepat proses kembalinya panca mahabhuta yang membentuk badan manusia, agar kembali ke asalnya. Tujuannya untuk melancarkan jalan bagi atman untuk mencapai alam surga. Upacara Ngaben dilaksanakan terhadap keluarga yang telah meninggal oleh keluarga yang ditinggalkan sebagai kewajiban membayar hutang kepada leluhur. Rangkaian Upacara Ngaben antara lain pedewasan karya, ngeruak dan nyapuh, nancep pampang, ngulapin, ngajum, ngendag, pengutangan, dan nganyut ke segara.


DAFTAR PUSTAKA

Tatib, I Made.2002. Upacara Tentang Ajaran Agama Hindu/Parisada Hindu Dharma. Jakarta: Felita Nursatama Lestari.
Tatib, I Made.2002. Upacara Tradisional Palebon Jro Ketut di Daerah Bali.Denpasar: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata.
Upacara Ngaben. Diakses dari: www.google.com pada tanggal 26 April 2008.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
;