Rabu, 15 Agustus 2012

Berpikir Kritis (Thinking Skill )


a.Pengertian Berpikir Kritis
Menurut Halpen (1996:112) berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan dan mengacu langsung kepada sasaran, merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.
R.Matindas (1996:71) menyatakan bahwa: "Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan"
 Menurut R.E Ennis dalam Zaleha Izhab Hassoubah (2004 : 87) menyatakan bahwa “berpikir kritis adalah bepikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipecahkan atau dilakukan “ Oleh karena itu berpikir kritis membantu siswa untuk lebih cerdas dalam berpendapat dan dalam menggambil keputusan. Menurut Sabar Nurohman (2008 :125) Thiking skill dapat dijabarkan menjadi beberapa indicator antara lain (1) Kemampuan menggali informasi. (2) Kemampuan informasi. (3) kemampuan memutuskan suatu masalah berdasarkan informasi yang diperoleh.
Menurut Dewi Utama Faizah (2008) pengertian berpikir kritis adalah sebagai berikut :
a.       Secara terminologi, berpikir berasal dari kata yunani yaitu critical krinein, to choose, to judge
b.      Meningkatkan ketidaksadaran kearah kesadaran
c.       Melakukan analisis untuk mengambil suatu keputusan
d.      mengenali bahwa cara pandang kita adalah sebuah kenyataan yang dibentuk oleh pengalaman
e.       Menjadi peduli dengan keberagaman yang ada
f.       Memahami sebab akibat
g.      memandang dunia sebagai suatu sistem jaringan kerja yang bermakna ( Dewi Utami Faizah. (2008).pembelajaran dialogis dan berpikir kritis.http://mbs-sd/buletin_fasillitator/Ed_3_pembelajarandialogis.pdf.diakses pada  tanggal 18 agustus 20011)

Kemampuan berpikir adalah kemampuan untuk mengembangkan gagasan dan ide yang didasarkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan nyata  yang kemudian mampu untuk mendeskripsikan atau menganalisis berbagai fakta dan data maupun informasi yang mereka peroleh dalam kehidupan nyata, sehingga siswa dapat memecahkan masalah sosial yang berhubungan dengan lingkunganya berdasarkan kemampuannya.
Banyak orang yang tidak terlalu membedakan antara berpikir kritis dan berpikir logis padahal ada perbedaan besar antara keduanya yakni bahwa berpikir kritis dilakukan untuk membuat keputusan sedangkan berpikir logis hanya dibutuhkan untuk membuat kesimpulan. Pada dasarnya pemikiran kritis menyangkut pula pemikiran logis yang diteruskan dengan pengambilan keputusan.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa berpikir kritis itu yaitu melakukan proses berpikir nalar (reasoning) yang diikuti dengan pengambilan keputusan atau pemecahan masalah (problem solving). Dengan demikian dapat pula diartikan bahwa tanpa kemampuan yang memadai dalam hal berpikir nalar (deduktif, induktif dan reflektif) seseorang tidak dapat melakukan proses berpikir kritis secara benar.
b.      Karakteristik  Berpikir Kritis
Berpikir kritis mencakup seluruh proses mendapatkan, membandingkan, menganalisa, mengevaluasi, internalisasi dan bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam nilai-nilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum didapatkan alasan yang logis dari padanya.
Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis,(Supraptojiel.(2005).ThinkingSkill.http://researchengines.com/1007arief3.html. diakses pada tanggal 30 maret 2011) yakni meliputi:
1.      Kegiatan merumuskan pertanyaan,
2.       Membatasi permasalahan
3.      Menguji data-data
4.      Menganalisis berbagai pendapat dan bias
5.      Menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
6.       Menghindari penyederhanaan berlebihan,
7.       Mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
8.       Mentoleransi ambiguitas.

c. Langkah – Langkah Berpikir Kritis
langkah-langkah berpikir kritis  sebagai berikut:
1)      Pahami dengan seksama pernyataan yang ada
2)      Cermati maksud di balik pernyataan (sekedar informasi, mempengaruhi sikap, ajakan dll)
3)      Cermati alasan yang diajukan untuk mendukung pernyataan. (gunakan logika)
4)       Cermati alasan dengan mengklasifikasikan alasan itu ke dalam: fakta, penafsiran, keinginan,atau kesimpulan ahli atau bahkan mungkin ajaran agama.
5)      Ambil keputusan, setelah menjalani proses-proses di atas silakan ambil keputusan terima atau tolak, setuju atau tidak setuju. Selalu ada pilihan, dan anda merdeka untuk memilih yang anda mau, tentu dengan resiko yang anda perhitungkan.
   The Statewide History-social science Assesment Advisory commitee (Kneedler dalam L. Costa,1985) mengemukakan bahwa langkah berpikir kritis itu dapat dikelompokkan menjadi tiga langkah (Primadi Iman nurcahyo. (2005).Berpikir Kritis http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/metodepembelajara/HASH7381.dir/doc.pdf diakses pada tanggal 2 april 2011),  yaitu:
a.       Mengenali masalah (defining and clarifying problem)
1.         Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
2.         Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan.
3.         Memilih informasi yang relevan.
4.         merumuskan/memformulasi masalah.
b.  Menilai informasi yang relevan
1.         Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar /judgment.
2.         Mengecek konsistensi.
3.         Mengidentifikasi asumsi.
4.         Mengenali kemungkinan faktor stereotip.
5.         Mengenali kemungkinan bias, emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat (semantic slanting).
6.         Mengenali kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.
c.  Pemecahan Masalah/ Penarikan kesimpulan
1.        Mengenali data-data yang diperlukan dan cukup tidaknya data.
2.   Meramalkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari keputusan atau pemecahan masalah atau kesimpulan yang diambil.


Daftar Pustaka 

Sabar Nurohman (2008 ) peningkatan thiking skill melalui pembelajaran IPA berbasis konstruktivisme di sekolah alam . dalam jurnal penelitian dan evaluasi pendidikan nomor / tahun  XI 2008 . Yogyakarta : himpunan evaluasi pendidikan Indonesia 
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/metodepembelajara/HASH7381.dir/doc.pdf 
http://mbs-sd/buletin_fasillitator/Ed_3_pembelajarandialogis.pdf.
.http://researchengines.com/1007arief3.html
 SEMOGA BERMANFAAT


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
;